mainImage

ku pinang kau dengan gaji 13


subhanallah...

tak di ragukan lagi...
engkaulah fans fanatik yang selama ini ku cari...

selamat datang di stage 2!

saudaraku...
Orang-orang yang merintis jalan perjuangan, adalah mereka yang merelakan kenikmatan hidup demi meraih apa yang menjadi keyakinannya. Bukan karena mereka tidak pernah berhasrat pada kenikmatan, tetapi karena kenikmatan itu menjadi kecil dan tidak ada artinya dibanding cita-cita besar yang terpendam dalam jiwa...

ok. tak usah lama-lama. kopas link di bawah ini dan temukan cintamu:



SAJAK DAN DARAH


(karya: Muhammad Thoha Anwar)

I

Sepotong sajak adalah

Kata-kata yang mendidihkan darah

Yang sanggup menumpahkan darah

Nyala membara sepanas darah

Ketika Abdullah bin rawahah mulai lemah

di bumi mu’tah yang melimpah

diminumnya seteguk sajak

maka mendidihlah darahnya

maka memerahlah wajahnya

maka berkobarlah semangatnya

daan kembali di sentakkan pedangnya

inilah Abdullah yang mengamuk

ia banteng yang terluka

di medan laga mencari sorga

akhirnya tercapailah citanya

mati syahid

mati syahid berkuah darah.

II

Kemudian;

Kita ikuti perjalanan thoriq bin ziyad

Pembuka kejayaan islam di Andalusia

Kepada balatentara yang tengah putus asa

Berkatalah ia, untaian kata penuh makna:

“saudara-saudara, tengoklah kebelakang!

Lautan luas penuh gelombang yang terbentang

Sedangkan kapal kita habis terbakar

Sedangkan musuh di depan kita siap menghadang”

“saudara-saudara, mundur berarti mati sia-sia

Kini di tangan musuh tersimpan bekal kehidupan

Majulah, tidak ada jalan lain lagi

Karena jika harus mati, inilah yang bernilai!”

Lihatlah arus yang kemudian menyerbu

Karena kata-kata bersajak mampu membunuh putus asa

Kaum muslimin yang sedikit jumlahnya menang juga

Dan terbukalah pintu kejayaan islam di eropa

(majalah Panji Masyarakat no.345 thn XXIII: 21 desember 1981)

Insomnia Setengah Matang (length series)



dibudidayakan oleh: HajiMiskin

Baru saja bulan berlabuh di bawah awan kelabu. Sinar cahayanya telah memupus rintih hujan pada bumi. Betapa ia sungguh bulat. Lingkaran sempurna. Menelusuk ruang-ruang rapuh insan berduka. Memantik aroma keceriaan hingga memiliki hasrat lagi menerpa angin malam. Melebur pada riak-riak air laut yang menggantang nasib para nelayan. Sungguh kail yang mereka terjunkan kian menggoda, terasah oleh gundukan utang yang terus menghantam. Padahal peta kesejahteraan belum luput dari bayangan. Apalagi dongeng kemapanan baru saja didendangkan. Tetapi lihatlah para pemimpin picisan. Betapa kekuasaan adalah kemunafikkan. Perampokkan menandai segala medan. Kini yang tertinggal hanyalah kesengsaraan dan sisa-sisa hayalan.

"Alde!!! Mbule to oonnaaaa!!! Ooo...Alde!!! Alde!!!" 1

Syahdu mata Alde masih memandang jauh ke awan. Tubuhnya bermandikan sinar rembulan dan udara malam. Masih lekat ingatannya saat kali pertama menjunjung pukat perawan. Waktu itu suasana malam remang-remang, sebab lingkar bulan masih seperempat. Itu berarti, nyaris tiga bulan umur pukat perawan. Lepas Opa-nya berpamitan pulang ke rahmatullah, sebenarnya Alde cukup risau tak dapat menebus sisa kreditan pukat perawan. Makanya ia bermaksud menaruh pukat perawan dalam timbangan. Paling tidak dengan hilangnya satu persoalan, sedikit mengurangi beban pikiran. Tapi amboi Opa-nya pernah berpesan: “Pukat perawan adalah mata rantai pencaharian. Perisai keluarga nelayan. Simbol pusaka peninggalan. Menjual atau menggadaikan hanya akan mengundang angkara murka penguasa lautan!” Fuh… benar-benar retorika berlebihan lagi keterlaluan.

“Aldeee!!! Podea aku pokaaaa!! Inamu hae inono!!!!” 2

Urat leher Oma menegang, membuatnya hilang energi dan kesabaran. Volume khas rakyat pesisir itu mencapai level tak dihiraukan. Padahal gaungnya hampir memecah nyanyian ombak dalam kegaduhan. Namun lihatlah betapa polusi suara itu lenyap dalam peredaran. Telinga Alde tak mau berkawan. Ia benar-benar keterlaluan.

***

Tirus wajah Alde tetap setia menantang wajah bulan. Ia masih ingin melamun. Ia masih ingin menghayal, tapi betapa bunyi kasar cemplungan batu telah mendaratkan percikan air pada hayalannya. Buyarlah semua. Tega sangat. Alde berbalik memandang Oma. Sinaran memantul ke atas kulit keriput wanita yang bertengger di akar bakau. Jemarinya masih mengapit kerikil. Senyum alde melengkung buat Oma-nya di kejauhan. Ibundanya itu masih seperti dulu, tegar menghadapi geliat zaman yang tak berpihak.

Bersungut-sungut, Alde mengangkat beban tubuhnya yang semakin ringan. Sudah seminggu Ia kembali ke kampung halaman. Lelah mengikuti perkuliahan membuatnya menimbang-nimbang sebuah kenyamanan. Tapi kenyamanan dalam standar kehidupan Alde sudah teramat keterlaluan. Ya, keterlaluan sederhananya. Selalu saja di kampung Yosika ini Ia jatuhkan pilihan. Padahal jika mau, dengan sedikit usaha saja Ia sudah bisa jalan-jalan ke bulan. Tentunya dengan berdoa pada tuhan, rebahkan badan, pejamkan mata, masuki alam bawah sadar dan ....tidur! Dengan menumpang iring-iringan kereta mimpi, menyentuhkan tangan pada debu-debu permukaan bulan bukanlah kemustahilan. Tapi inilah Alde si anak nelayan sang pujangga kota kecamatan. Berada di bulan hanya akan membuatnya patah hati melihat bumi dikejauhan. Apatah lagi jika ternyata ruh Michael Jackson sedang ber-moon walk-ria sambil asyik menyenandungkan earth song-nya di sana. Oh, betapa malangnya Alde si mahasiswa veteran. Wisatawan yang kan menjadi pihak pertama yang dirugikan. Demikianlah sesuatu yang indah dipandang dari kejauhan belum tentu sama mempesonanya ketika sudah saling berhadapan. Apa lagi Alde tahu persis kondisi buminya selama ini. Tapi sudahlah. Toh, menyaksikan bulan dari karang pantai Yosika masih lebih nikmat ketimbang menyaksikan karang Yosika langsung dari bulan. Pasti nggak kelihatan!

“maa menai inggo’o Alde. Tudu mbule, ikirooo lau-lau!” 3

Telunjuk Omanya menyisakan tafsir batin tak beraturan. Entah tepat atau tidak arahnya menodong karang Yosika. Tapi siapa pun akan paham sehingga tak perlu lah meminta persetujuan masing-masing orang. Kalaupun tidak tepat, yakinlah lintas elevasinya bakal mendarat tepat ke karang itu. Sebuah logika subyektif berlumur harapan penuh motif. Logika yang sama pernah diharapkan terjadi pada sampan cintanya yang tak kunjung jua berlabuh. Bermuara malu-malu di lubuk hati seorang wanita dambaan kesatria surga. Siapa dia? Ehm….

aku ingin… mencintaimu…. dengan sederhana… dengan kata… yang tak sempat… di ucapkan kayu kepada api… yang menjadikannya abu…4

“Eee Abang… kenapa biissaaaa????” Kicau Stavolt menggugah selera humor alam hayalnya. Alde pun bertanya-tanya, “Iya eee… kenapa bisaaa???” Stavolt sedikit menghantam, “bukan kah pacaran itu haram dalam islam, Abang???” Busyetlah pertanyaan Stavolt, semakin kesini semakin menghujam! Kenapa juga ujung setiap kalimatnya kadang-kadang pakai suara dalam?

“Eee… Stavolt, itu memang benar. Katong pu kata pasti di benarkan ulama-ulama fiqih. Pacaran itu sampai kiamat pun tetap haram. Ulama yang melakukan pengkajian dalil tidak sedikit. Banyak Stavolt. Apa lagi ketetapan ini sudah ada sejak dulu dan tetap dibenarkan hingga sekarang. Metode Islam yang harus ditempuh para Mujtahidin untuk memecahkan persoalan kehidupan adalah: pertama, mempelajari dan memahami problem yang ada. Kedua, mengkaji dalil-dalil dalam Alqur’an maupun Sunnah yang berkaitan dengan problem tersebut. Ketiga, mendalami hukum Allah dari dalil-dalil itu untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Lagi pula, tidak mungkinlah mereka bersepakat dalam kebohongan. Apalagi Stavolt, ulama terdahulu saja, jarak yang memisahkan mereka rata-rata berjauhan. Padahal jaman dulu alat komunikasi belum canggih. Jangankan kartu seluler, telepon pun belum ada Stavolt.”

Stavolt senyum-senyum. Ia ingat lagi kartu seluler dan hape plankton. Pada interval seperti inilah yang merubah waktu menjadi tepat untuk meyakinkan Stavolt.

“Jadi Abang, orang muslim tidak bisa pacaran kah?”

“Ooo… tidak bissaaa…”

Bergegas Stavolt melangkahkan kaki. Sadis nian dipencetnya tuts-tuts hape plankton. Ia baru saja ingat seorang operator seluler yang muslim. “Eee… halo Abang. Ini dengan Stavolt…” yang di ujung telpon malah melenguh, lesu. Stavolt… Stavolt… namamu aneh tapi terkenal. Udin yang pake hape plankton… namanya… Stavoluddin!

***

Mencintai angin harus menjadi siul… mencintai air harus menjadi ricik… mencintai gunung harus menjadi terjal… mencintai api harus menjadi jilat… mencintai cakrawala harus menebas jarak… mencintaimu… harus menjelma aku… 5

Sedikit lebih dalam Alde kembali meramu tanya, “Kalau mencintai Islam, harus menjelma apa?” Alde cukup paham jika perkaranya hanya berkisar tentang bagaimana membereskan urusan cinta, mengontrol nafsu bertarung, dan memosisikan diri di hadapan pencipta. Mendudukkan persoalan naluri pada kursi yang tepat adalah enteng baginya. Syiar Islam pernah menjejakkan kakinya di pesisir pantai Yosika. Membentuk tatanan masyarakat mapan ilmu agama hingga mengalir secara turun-temurun sampai sekarang. Tetapi berbicara Islam dalam konteks global, inilah yang membuatnya lumayan bingung. Padahal ia pernah dibekali buku sampul putih bertulisakan tinta merah oleh Roy kawannya dari kota. Tapi entah mengapa buku itu bisa hilang saat rapat konsolidasi rekan-rekan mahasiswa sedang berlangsung.

“Siapakah yang akan menjawab kegelisahan ini????”

Teriaknya merajalela, tentunya dalam hati. Mendengar jeritan itu, tibalah masanya Haji Miskin sebagai saksi sejarah kerusuhan intelektual yang di alaminya, membuktikan partisipasi aktif sebagai penulis cerita yang alurnya membingungkan ini. Pada hitungan ke tiga, Haji Miskin berhasil memasuki dunia hayalan sang lelaki berkalung slayer. Yeah!

“Kawan Alde yang di rahmati Allah SWT. Membincangkan Islam tidak boleh mencukupkan diri hanya dengan membahas ranah ibadah individual semata. Islam membahas persoalan kehidupan, peradaban manusia dan mencakup segala aspek alam semesta secara menyeluruh. Maka islam sesingguhnya adalah ideologi sekaligus spiritualitas. Merangkaikan kata ideologi dan Islam pada dasarnya tidak hanya menarik secara leksikal dan gramatikal, namun juga memiliki substansi makna yang dalam dan fundamental. Dengan kata ideologi islam, maka telah terjadi proses penghancuran terhadap paham sekulerisme atau pemisahan agama dari kehidupan yang telah membelenggu pemikiran umat. Selain itu juga, sebagai proses purifikasi dan revitalisasi terhadap Islam, dengan maksud agar Islam kembali menempati posisinya yang layak, yang telah ditetapkan Allah baginya yaitu sebagai penuntun dan pengatur segala urusan hidup manusia secara utuh nan menyeluruh sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Al-baqarah ayat 208 dan 85. Dengan demikian, tatkala kita menyebutkan istilah ideologi Islam, sesungguhnya kita telah memelihara substansi Islam itu sendiri yaitu Aqidah dan Syariah tanpa mengurangi atau menambahinya sedikitpun. Kurang lebih seperti inilah pemaparan konteks berpikir islam secara global.”

Urat kepala Alde menyembul di permukaan. Nampaknya telah terjadi pergulatan suasana batin dan pemikiran yang sulit diterjemahkan. Setengah menit, Haji miskin kembali menyereput kopi hangatnya di dunia nyata lalu kembali lagi menggoda Alde di alam hayalnya.

“kawan Alde, perhatikanlah sebuah garis. Garis adalah sekumpulan titik-titik yang memiliki pangkal dan ujung. Betapapun garis itu lurus ataupun berliku, pasti memiliki pangkal dan ujung. Demikian juga hidup ini. merupakan sekumpulan titik-titik yang telah kita buat. Setiap manusia telah membuat pangkal, berarti mereka harus siap menuju ujung. Setiap mereka akan melalui garis itu hingga batas dimana mereka menemui ujung dari kehidupannya. Lantas dimanakah ujung itu akan kita temui? Tentu pada titik terakhir. Kapan itu terjadi? Inilah masalahnya karena tak ada satupun diantara kita yang tahu. Kalau sudah demikian, maka tak ada alasan lagi selain bersegera menuju ampunan Tuhan, tegakkan Syariah dan Khilafah… jika tak percaya, silahkan dibuktikan. Hidup ini pilihan. Oke coy?”

Alde menggumam, ia bangkit. Matanya menantang luas lautan. Mahasiswa jurusan perpustakaan ini telah kenyang dengan teori-teori sosial. Itulah mengapa pembacaannya terhadap gejala telah menyeretnya menjadi petarung jalanan yang gemar mengadvokasi perlawanan atas kezaliman. Gelegar opini Syariah dan Khilafah bukan hal yang baru saja akrab di telinga dan pembacaannya. Justru perlahan-lahan hal itu telah membentuk kawah keindahan tersendiri di dalam jiwanya. Hanya saja ada satu yang membuatnya masih enggan selama ini, ketidaksiapannya melaksanakan syariat islam secara keseluruhan!

Haji Miskin kembali beraksi. Usai mampir sebentar ke alam nyata guna menyeruput kopi hangatnya di meja kompi, Ia kembali bertengger di awan hayalan Alde sang lelaki berkalung Slayer. Menarik nafas panjang, Haji miskin mulai memberi petuah,

“Pada gerbang akhir zaman, gigitlah sunnah Nabimu dengan gigi-gigi geraham meski harus patah. Genggamlah bara api kebenaran meski harus terbakar. Merangkaklah jika harus merangkak, karena merangkak di jalan kebenaran lebih baik daripada berlari di jalan kekafiran.” Ia melanjutkan, “Hiduplah sesukamu, tapi engkau pasti mati. Berbuatlah sekehendakmu, tapi engkau akan dimintai pertanggungjawaban. Cintailah siapapun yang kau dambakan kecuali Allah, tapi kau pasti akan berpisah darinya.” Dada Alde penuh buih-buih gelora. Diantara debur ombak malu-malu, pantulan cahaya bulan di muka lautan dan ikan-ikan yang menyenandungkan kidung-kidung kebebasan, takbirnya memecah cikal bakal keheningan. Omanya kaget. Ia membuka diri, tangannya lebar terbuka sementara senyumnya melengkung sempurna. Berlarilah Alde menuju pelukannya. Untunglah tak ada pohon di interval keduanya, betapa hampir saja cerita ini berubah film India. Pada Oma, meluncurlah kejujuran tentang seorang wanita di ujung pandangannya sebulan lalu.

“Oma… hari ini ku rangkul dikau di kananku. Esok nanti, kan ku rangkul dia di kiriku. Bagaimana Oma?”

yang ditanya cuma mengangguk, senyum sempurna. Mereka menuju balai desa, lekas membantu membuat spanduk dan konsolidasi lagi. Keterlaluan sudah korporat-korporat itu, hendak membangun kerajaan bisnis di atas tanah yang tidak di setujui rakyat desa. Kompeni lokal musti di lawan. Mereka menabuh genderang sengketa!

Sementara itu, Haji Miskin telah kembali ke dunia nyata, berniat mengakhiri cerita pendek ini dengan menuliskan jejak kata-kata souvenir,

Surga dan neraka adalah tempat berbeda, untuk dua gaya hidup yang berbeda…”

Aih… kenapa dia lupa menyampaikannya pada Alde?

Ket:

1 “Alde!!! Pulanglah!!! Ooo...Alde!!! Alde!!!”

2 “Aldeee!!! mendengarlah!! Ini Ibumu!!!!”

3 “Sungguh terlalu engkau Alde. Setiap pulang, selalu di tempat itu!”

4 Puisi Aku Ingin, Sapardi Joko Damono.

5 Puisi Sajak Kecil Tentang Cinta, Sapardi Joko Damono.


combatientes carta de amor



Kemarin kau masih disini, bersama mereka di indahnya perjuangan yang kalian jalani. Membicarakan mimpi yang akan kau ikat hati-hati agar tak lari walau sepanjang jemari. Menggelantungkannya tepat di depan mata kiri sebagaimana jajaran huruf-huruf kitab An-nabhani yang kau bacakan padaku di sore hari. Hidupmu memang simpel, aku tahu itu. disaat orang lain bermimpi mengecap studi ke luar negeri, kau malah berkata lirih kalau ingin disini sambil menyusun strategi biar derajat syahid mau menghampiri. Saat pemuda hari ini mulai mengukur militansi dengan tampil begitu modis mengenakan kaos-kaos propagandis atas nama revolusi, kau muncul ala kadarnya, biasa saja lagi sederhana.

Tentang syahid. Itu yang justru tak ku mengerti, akhi. Bukankah banyak kawan-kawanmu yang sama berjuang mengangkat panji tapi tetap saja punya mimpi menjabani banyak negeri? Semisal pemuda yang mengundang kita lewat pamflet, agar hadir mendengarkan sebab apa ia mampu menaklukkan mimpi-mimpi yang pernah ditulisi pada secarik kertas putih. Mengapa keduanya tak kau raih?

Kau tertawa. Kala itu kau tertawa, membuat aku terpana dan orang-orang mungkin berpikir kalau kau setengah gila. Kau pulang membawa gelak tawa tentang rencana anak-anak semacam kami yang masih saja mengikatkan mimpi akan ekstase dalam ritme bulir-bulir kesuksesan di atas singgasana kapitalisme. Aku tak menyangka. Secadas itukah mimpimu? Mati menjadi martir hingga bau anyir menggenangi tanah jihad pertama kali. Merelakan sepenggal napas diatas keikhlasan dan idealisme seorang petarung yang tak jua urung mengarungi lakon hidup sebagai mukmin sejati. Pantas saja kau tak mau sesumbar tentang mimpi ini. Kau bisiki aku dengan lirih suaramu, menyiratkan gelora semangat yang begitu menggebu. Sejak itu ku tahu, kau berharap penuh padaku agar selalu mengingatkanmu jika kau mulai menyimpang jauh dari enam huruf impianmu itu. Tentu saja, tentu aku akan mengingatkanmu. Karena kau telah menggiring aku menjadi saudaramu. Sesuatu telah mengikat kita dalam seronoknya persaudaraan ideologis. Jauh melampaui kualitas persaudaraan biologis.

Hingga suatu hari, hari dimana aku menunduk pilu melihat tubuhmu terbujur kaku karena sakit yang selalu kau sembunyikan dariku. Tubuh yang kau harapkan berakhir dalam takdir yang sama terjadi pada Hamzah r.a dan aku merinding setiap kali kau berkelakar tentang itu. Kau bujang, pemuda yang tak pantas mengaku tua. Wajah sendu dan Getar bibir Ibumu menahan tangis. Tak ada wanita yang menangisi selain dirinya, sedang Bapakmu sudah lama pergi berlalu.

Goodbye brother…Seperti inilah Tuhan menjawab lesatan doamu di sepertiga malam. Serupa Abu bakar r.a yang menyisakan seekor Hewan bunting dan budak pembuat pedang di hari wafatnya. Membuat generasi belakang semakin sulit mengikuti jejaknya. Serupa nafas terakhir Khalid bin Walid r.a di pembaringan, yang totalitasnya meninggalkan pedang dan kuda perang.
Ya… semacam itulah. Semoga langkah kakimu di negeri abadi menggenapi semua peluh lelahnya perjuangan…Amin ya rabbil alamin.

(Kepada setiap kawan yang masih melawan, yang masih tertawan. giringlah kami ke garis terdepan dengan senyum menawan dan penuh keikhlasan… ^_^)

Ketika Tinta Menagih



Teratai. Kecipak air baru saja mengganggu meditasimu yang serasa kaku. Kenapa kau biarkan berlalu? Tidakkah kau ingin ia tahu kesibukanmu? ataukah kau malu karena pernah mencintainya di masa lalu? Teratai, Bau amis itu tercium lagi. darah mengalir sepanjang pedang mengulur cerita dendam tak berkesudahan. Penggalan kepala, teratai? Kau lihat kan kemarin? Penggalan kepala yang menebar angkara saat kita takut bersuara dan aku hampir saja mengadu pada Dewa jika sewa tanah tidak mau disepakati dengan seksama. Teratai…andai kau tak melawan waktu itu, pastilah kita tak berjumpa kali ini. Kalau saja kau bereinkarnasi menjadi batu, pastikan kau ada menemani genggaman bocah-bocah intifada, tak jua gentar menghadapi serdadu walau logika meringis kala batu bertemu peluru. Teratai…arghhhh, kini ku lihat jelas warna darahku. Inilah akhir cerita kita. Ku tunggu kau di lain dunia….

Terbata-bata tapi ia tetap mencoba. Tak tega rasanya jika gagal lagi kali ini sehingga seraut ekspresi kecewa menyeruak dari wajah keriput nenek minah, manusia udzur yang sebentar lagi mungkin akan menyatu dengan tanah. Sosok pengajar yang masih getol mendedikasikan hidupnya untuk mereka yang tak punya cukup rupiah. Si Adik yang meraung-raung tak tahan sengat matahari, tak lagi dipedulikannya. Kali ini ia harus selesai. Empat hari sudah papan itu dipelototi, menyingkronkan antara informasi sebelumnya dengan fakta yang terindera, menyelaraskan gerak langkah otak dan lidah sehingga menghasilkan kaul yang di kehendaki dalam kaidah bahasa kita.
“p…e…PE!, l…u…LU! r…u…RU!” ia masih ngotot mengeja, sebuah sajak teratai seorang pujangga gila yang konon katanya betah bercengkerama dengan teratai dipenghujung purnama dan di temukan tewas di danau ini puluhan tahun silam. Tak lama kemudian, tangis sang adik terhenti. Matanya menutup. Entah pingsan atau ketiduran, itu hal biasa. Biasa terjadi saat hilir mudik di traffic light, rumah ke rumah, kantin-kantin kampus ternama, hingga kediaman elit para Dewan. Hoho…untuk yang terakhir ini, sudah tidak pernah lagi. Ia kapok karena pernah nyaris celaka kena serempet mobil sang Dewan terhormat. Sudah begitu, dapat makian pula. Seakan Ia di pandang sebagai sampah yang harus segera enyah, padahal atas nama kasta-nya lah sehingga si Dewan naik tahta.

Oh ya, namanya Ina. I-N-A. gampang kan mengingatnya? Singkatan nama negara kita. Asal jangan saja kau samakan kondisi Ina dengan negerimu ini. Atau, jangan-jangan seperti itu?yalah..yalah…maybe benar…
Ina lelah, di emperan toko koh Ahong ia singgah berteduh. Adiknya kini terbahak. Entah sisi kelucuan mana yang baru ditafsirkannnya. Padahal Ina cuma menggelindingkan sekeping koin hasil jerih payahnya hari ini. Hari memang cerah dan suhu selalu saja meminta peluh. Ina harus pergi. Sepasang mata bejat sedang mengintai gelagatnya. Seteru dalam hatinya kembali beradu, mencabik-cabik perasaan yang sudah terlanjur kelam oleh dendam yang masih tergenggam. Setiap desah dan dengusan napasnya, adalah pengkhianatan atas peraturan yang sedari dulu telah otoritarian. Mata itu membelalak, pemilik tubuh kekar dengan tattoo di sana sini mengirim isyarat mematikan. Kalau disambut dengan perlawanan, maka urusan akan runyam belakangan. Ina mengalah. Si mungil adiknya kembali menempel di balik tubuh. Langkahnya tak tentu arah, matanya masih membara dibawah terik yang membuat hari semakin gerah. sesaat kemudian, sisi-sisi koin senggol-menyenggol membentuk irama yang sekilas merdu dalam gelas plastik yang masih baru.
“ kak…uan ta’ kak. Seratus mo kodoongg…” penghuni Honda Jazz merah menoleh. Sebuah pertanda baik. Kaca mobil membuka, jemari lentik khas kelas atas melepaskan uang ke atas gelas. Shit, Ia benar-benar tersugesti. Benar-benar seratus rupiah! Ina terpaku. Diperhatikannya lagi wanita itu lebih lama, “ kak, limbi’ mo kak….kak! limb…” lampu berubah hijau, si wanita melesatkan mobilnya tak ambil pusing. Ia masih ada janji dengan klien siang ini. Tidakkah Ia ingin tahu, kalau adik Ina belum makan sejak tadi malam hingga sore yang hampir menjelang kini?

***

Malam. Sebatang lilin hidup di tengah ruang kehampaan. Rentetan denting piano mengalun lembut, menemani suara merdu Melly Goeslow ketika lirik Bunda mematisurikan selera humor untuk sejenak menarik pelajaran dalam kesempatan kala itu. Ina menghela, mencoba mengingat-ingat kembali wajah ibunya. Gelombang eksodus telah mengombang-ambingkan tubuhnya hingga ke tanah tempat Ia berpijak kini, meninggalkan pusara sang bunda di seberang pulau sana. Sketsa akurat baru saja terangkai dalam ingatan ketika dengan segera tersapu oleh gemerisik kertas di hadapannya. Buku lusuh yang tak pernah lagi tersentuh, teraih oleh tangan cacatnya mengisyaratkan keinginan menggebu untuk mengasah ejaannya kembali. Di sebuah lembaran ia berhenti,

Dingin. Di sini dingin Ayah, hembus angin ini tak henti menampar wajah saat kami sudah terlalu sadar akan kenyataan hari esok yang kian mengenaskan. Perang ini ayah. kebisuan yang menjangkiti penguasa, kepura-puraan kala mata kami menemukan sosok mereka bersembunyi di balik proyek pembantaian demi amannya kepentingan imperalis di negerimu ini. Ayah, mengapa sebagian umat ini terlelap saat mata kami tak berhenti terpejam oleh kedzaliman? Bukankah Nabi telah menyatukan kami dalam ikatan ideologis, jauh melampaui kualitas persaudaraan biologis? Ayah, tahukah engkau? Adikku menggelandang di luar sana dan tak ada satupun kabar tentang dirinya. Adakah ia telah memanggul senjata atau malah sudah di sampingmu kini, di alam sana? Ayah, Tentara keparat itu muncul lagi. Sampai jumpa. Aku sudah siap...

Srebrenica, 1995

“i…d..e..IDE!... o…IDEO! l…o...g…i…LOGI!!...s…LOGIS
!!” Ina sudah agak lancar, pastilah nenek Minah sedikit bahagia. Adiknya terlelap lagi. syukur pagi ini Ia bisa makan roti. Waktu menyulap secuil kebahagiaan saat adiknya terlihat begitu lahap. Sebagian uang hasil jerih payahnya telah raib saat hendak membeli sebungkus nasi tadi malam. Berubah menjadi sebotol arak lokal dan kacang goreng. Menguap di atas meja judi orang-orang bejat yang merasa punya kuasa atas hidup bocah 10 tahun itu. Mengacuhkan Ina yang lagi-lagi terpaksa hanya menikmati senandung bising dari usus, mengayun-ayunkan kelopak matanya hingga semaput di atas kardus. Saat yang sama, prosesi serah terima baru saja terjadi oleh makelar kasus. Desas-desus penyelewengan uang negara pun mengudara. Penjarahan, pengkhianatan, penipuan dan penindasan. Semua langgeng di atas sistem bebal hari ini.
“eh, Ecceng! Ini ada roti lagi. Makan nah?” Ecceng mendesah, terima nasib. Persis orang yang sudah paham betul akan kerasnya kehidupan. Sedikit demi sedikit lama-lama perutnya Ecceng membuncit. Lalu bagaimana dengan Ina? Sudahlah, yang tua mengalah. Paling-paling sebentar lagi kenyang sendiri oleh tontonan kuliner yang selalu bikin iri. Setiap sajian makanan yang tertangkap kamera, dengan segera akan di transformasikan oleh otak, diramu sedemikian rupa menjadi bulatan-bulatan sugesti yang akan meledak pada waktu yang tepat. Lalu tipu daya sendawa menggema saat host acara kuliner berkata, “oke pemirsa…sampai disini dulu sajian kuliner yang bikin ngiler, saksikan terus acara ini dan sampai jumpa minggu depan. Bye! Bye!” klik! Senandung bising yang sama, dari perut yang sama. Jangan sedih! Ina sudah kenyang…

***

“hidup rakyat!! Hidup!!! Hidup rakyat!! Hidup!! hidup rakyat!! Hidup!!!” yel-yel yang menarik perhatian, tak terkecuali Ina. Kelompok itu berhenti, membentangkan sebuah spanduk bertuliskan kata-kata perlawanan terhadap kebijakan Negara yang nyaris tak berpihak pada jelata. Ragam komunitas merapatkan barisan untuk satu kata penolakan. Di sana semua warna mahasiswa sedang unjuk gigi, menguji seberapa besar mereka punya nyali. Ada yang terlihat bak legenda kombatan hutan Bolivia, reinkarnasi aktivis 98, dan banyak lagi. Begitulah seharusnya, dipundak siapapun mestilah tersemat harapan orang-orang papa. Saat masa, massa dan suasana telah sedia, Ina maju mencoba peruntungan.
“kak…limbi’ dulu kak. Belum pa makan kodong….!!!”
“hah!! Limbi-limbi! Pembeli roko’ku lagi ndada.” Sang mahasiswa mengacuhkan tawaran pahala, kembali asyik bercanda dengan seorang wanita yang mungkin saja pacarnya. Mahasiswa. Wajahnya memang bersih, pakaian khas distro, gaya rambut Emo, dan kunci mobil menggantung begitu saja di saku celana. Sinis mata Ina menebar sinyal ketidakpercayaan pada seonggok tulang dihadapannya itu. Dan benar saja, Kepulan asap Marlboro menthol menjadi saksi pengkhianatan atas kata-katanya barusan.

Orator masih sibuk meluruskan penguasa dan Ina belum mau kalah dengan keadaan. Pertanyaan yang sama kembali meluncur dan segera disambut oleh makian wanita pujaan si rambut Emo yang terus mengguyur. Mahasiswa rambut Emo memandang remeh, melempar asap ke wajah Ecceng. Selang beberapa saat barisan mahasiswa telah membara oleh orasi yang semakin menggumulkan energi perlawanan.
“kawan-kawan, negeri ini sejak dulu diklaim berdaulat. Tapi sesungguhnya kita tidak pernah berdaulat! Berapa banyak rakyat yang turun ke jalan, meneriaki penguasa agar segera merubah kebijakan ini. Tapi tidak pernah didengarkan kawan-kawan. Hidup rakyat! Hidup rakyat!! Hidup rakyat!!!”
“Hidup!...Hiduupp!..Hiduuuppp!!!” pekikan menggelora saat pria rambut Emo menyambut teriakan yang sama. Ina mendesis, sepertinya ia sedikit paham. Sosok imajiner pria rambut Emo bersembunyi di balik dusta wajah filantropi. Kelihatan sekali kalau kehadirannya bukan didorong oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas sehingga penjajahan diatas dunia, terhapuskan. Hah…basa-basi! bisa dipastikan kalau pria rambut Emo tidak ikut rapat konsolidasi sehingga apa yang ia lakukan di sini tak lebih dari gaya-gayaan ala playboy letoy. Beginilah harta, tahta dan wanita membuat lupa akan jelata. Ketika kesamaan platform perjuangan menjadi alasan yang lebih menggiurkan dalam rangka mengakomodir titik-titik perjuangan yang berserakan di banding kekuatan ideologi gerakan. Maka sebanyak apapun massa, saat gelombang besar mulai menggertak di ujung sana, kekuatan massa hanya akan terlihat bagai kesatuan yang rapuh yang bagian-bagiannya akan lari satu-persatu. elemen revolusi bukan hanya massa tetapi juga kekuatan visi. Sehingga lautan massa dari berbagai kasta hendaknya tidak dimanfaatkan untuk sekedar unjuk kekuatan yang pada akhirnya tetap membiarkan mereka menjadi massa-massa mengambang, tetapi harus ada pendidikan politik untuk membentuk massa yang cerdas. Yakni massa yang tahu persis dari dan untuk apa ideologi gerakannya ada yang mana ideologi itu telah teruji kebenarannya secara pasti, bukan ideologi yang bersembunyi dibalik topeng manusiawi. Demikianlah islam mendidik para petarung.

***

Tak perlu menunggu lama. Cukuplah menghabiskan tiga batang rokok saja untuk mengatakan “wow…Ecceng sudah besar.” Jarinya gesit menekan strings ukulele. It’s show time! Ina mulai berdendang ketika lampu merah memberikan tanda dan Ford Fiesta berhenti tepat di depan mata. Sepotong Reff gubahan meluncur begitu saja. Entah siapa yang mengajar,

…Ketika tinta menagih harapku sungguh menggebu… Kembang kempis dadaku meredam sakit hati… Kepal tangan tergambar inginku segera menentang… Semua kebohonganmu, atas segala janji…

Kaca mobil membuka. Ah, wanita itu lagi. bukannya segera memberi uang malah asyik melihat bekas tinta di jemari kiri. Dia bukan Ungu Cliquers tapi sudah pasti Ungu klingkingers.
“50 ribu, cukup?” katanya. senyum Ina 2-2-7. Ina mengangguk, lega. Hore!!

Ya… Ketika tinta menagih hadirnya kehidupan yang damai. ketika tinta menagih janji yang terkhianati. Ketika tinta menagih gerak intelektual negeri yang hilang bak ditelan bumi.

Ketika… Tinta… Menagih…[]

--Milito Muhammad--

SAGA DI BATAS GAZA



Merekalah titik2 nutfah yang pernah ada. Segumpal darah yang kembali hadir menyirami negeri para syuhada. Meneriakkan perlawanan yang takkan hilang hingga akhir zaman. Ketika jeritan ummi-ummi tua di balik jelaga. Ketika gaza menjadi fenomena di mata dunia.

Lalu kita? heh..siapalah kita. Seonggok tulang bernyawa yang getol bersembunyi di balik dunia maya. Membiarkan mereka sendiri memanggul senjata. Menunggu martir memporakporandakan kepala. Dan kita...heh, siapalah kita. Hari ini masih sanggup tertawa, membiarkan mereka mengencangkan ketapel menunggu logika meringis kala batu bertemu peluru.

Sementara kita hari ini. sejak dulu...bertahun-tahun masih saja mengumpulkan dana. asupan penyambung nyawa untuk mereka yang hingga kini teguh menggenggam bara islam di batas Gaza. Mereka yang masih menjadi bahan tontonan ummat sedunia, saat mana kita duduk manis di depan layar kaca bersama hangatnya kopi di pagi hari. Ketika negeriku bukan negerimu. karena urusan negerimu bukan urusan negeriku!!! sungguh nasionalisme telah kita aminkan di hadapan Tuhan...

maka malulah anda sodara!!!!
maka malulah anda sodara!!!!

MAKA MAJULAH ANDA SODARA!!!

[pasang badanmu ikhwan!! Saat mereka berdiri menantang keberanian. Acungkan senjata jika perang adalah jawaban perlawanan. tunjukkan pertarungan hingga menggapai derajat kesyahidan...]

BANGUUNN…EMERALD !!!



Tiba-tiba saja kemilau menghilang diantara kabut-kabut tipis. Saat mana Cemara menari lembut di terpa sepi angin dari timur. Dan burung-burung masih menyenandungkan kidung -kidung kebebasan.

“ Sudah se-windu rupanya…” Kawan menggumam, memandang jauh semburat yang hendak menyapa lagi. Lakon hidup yang memaksa untuk di perankan entah sampai kapan.

Kawan masih memandangi gumpalan awan. Sementara Emerald masih jongkok di balik pintu ruangan dengan wajah memerah. Gerak peristaltik maha dahsyat baru saja menjamahi lorong-lorong ususnya. Mendorong apa saja yang masih tersisa menuju ujung pembuangan akhir. Emerald masih remaja, kira-kira masih umur anak sekolah menengah. Itulah mengapa kenakalannya masih sering tersalurkan dengan baik. Menggila pada siapa saja yang kondisinya pantas untuk di permainkan. Meski sering bertindak tidak wajar, tapi Emerald-lah salah satu orang terdekatnya kini. sekarang dan mungkin untuk selamanya.

Nada ngilu engsel pintu membuyarkan episode klimaks dari tragedi yang mememenuhi alam pikirnya sedari tadi. Saat yang sama, Emerald keluar meringis. Ia masih bersabar, Pertarungannya mungkin menyisakan sedikit peluh lagi. Dan benar saja, panggilan alam pun kembali melecut kedua kakinya menuju permukaan benda yang terbuat dari Porselen, berharap ini yang terakhir. Semua terbahak, mengejeknya. Terlebih mereka yang sering menjadi bahan eksperimen kekacauannya. Pembalasan kadang mencari jalannya sendiri. Dan Begitulah, haripun berlalu tanpa pamit…

***

Wajah itu masih terekam jelas dalam korteks serebralnya. Sosok yang memantikan gelagat anomali di tengah seribu satu pertanyaan yang terus mendera hingga kini. “ perpisahan kadang tak semanis perjumpaan, dan memang selalu demikian ” Bisik-bisik lembut kembali mengiang, menorehkan luka yang teramat dalam. Kadang kala Kawan berharap saat itu selaput timpani nya cacat saja, robek atau apalah, biar gelombang-gelombang suara itu gagal menghasilkan gerak resonansi normal. Tapi kehendak alam belum mau di selisih, semua punya masa sendiri-sendiri.

“ sudahlah saudara! lupakan saja semua itu. Kita akan berakhir disini. Jika mereka sudah bosan, paling kita-kita ini di lepas ke tengah hutan lalu di tembaki dari jauh ! ”

Mendengar kata-kata Jogo, tatapannya berubah sinis. Rintik pesimis mulai menggerimis. Dari dulu, memang hanya Kawan-lah yang selalu optimis akan hadirnya udara kebebasan. Penantian itulah yang membuatnya selalu gelisah sepanjang malam. Memainkan ujung korek api ke atas dinding-dinding usang, menggaris sana-sini sambil ditemani merdu dengkur Emerald Van Denhill hingga kokokkan ayam mengalun pertama kali. Semangatnya terus menyalak. Ada sebongkah dendam kesumat yang masih menunggunya di luar sana, menunggu terbayarkan.

“ Dah, teruskan saja nak. Jangan kau dengarkan Jogo. Istrimu pasti belum patah arang. Dia juga pasti sudah rindu berada dalam dekapanmu. Suatu saat kau akan keluar dari kungkungan ini. Bawalah mereka bersamamu, jagalah cucuku. Mungkin waktu itu, aku akan memperhatikan indahnya pelarian kalian dari atas sana ” seketika bibir bergetar, ada airmata tertahan dibalik bola mata rabun. Lelaki kurus dengan mahkota uban putih tak mampu berkata lagi. Andai tak mengingat nasib Emerald sepeninggalnya nanti, iapun sebenarnya pesimis dengan harapan kebebasan itu.

***

Hentak sepatu mulai terdengar, gemuruh kunci semakin sangar. Bayangan serdadu menyembul, menjelma bagai animasi monster berbadan besar. Semua tercengang, tegang. Mereka-reka siapa lagi yang bernasib malang. Di balik selongsong besi, serdadu Kolimogilli mendesis, persis rupa orang-orang bengis. Mereka menunduk, tak kuasa menyaksikan gemulai tarian kematian di lingkar moncong avtomat kalashnikova. Seperti biasa, harus ada yang berakhir kali ini.

“ jika kebebasan kalian mewujud… katakan pada sejarah, aku telah bebas hari ini !!! ” teriakan yang melesat di susul rentetan letusan peluru. Tepat saat di lain tempat, empat jasad merapat ke liang lahat. Pembantaian klan ikut-ikutan membuas.

Hari berlalu. Kawan masih saja merasa aneh dengan Emerald yang sekarang. Tak pernah lagi jahil dan selalu menyendiri sambil menatap grill dengan tampias cahaya matahari di sisi-sisiya. Pertanyaan yang dulu mati dari bibirnya, kini kembali menyembul lirih,

“ aku ini siapa? Aku dimana? Ini tempat apa? Hanya tembok-tembok inikah? Pohon-pohon, juga matahari? ” saat semua menggeleng tak tahu, segera kemudian emosinya berakhir dalam tangis. Siapapun tak tega melihat air mata itu mengalir. Tidak anda, aku , juga kau. Tembok kembali di rambah. Kawan mulai memberontak, memutar otak lagi. kali ini Jogo turut andil. Hati nuraninya terus memaksa menjadi pioner biar kelenjar lakrimasi mau kompromi sehingga sang pemilik air mata itu sadar, tak ada gunanya menangisi yang telah pergi.

“ hei bocah!!! Kau lelaki, jangan jadi banci. Kakekmu takkan bangkit lagi. ia membusuk di luar sana! diam-diamlah kau sedikit. Biar strategi ini selesai dan penderitaanmu segera usai!!! ” sebaris teguran yang menjengkelkan. Jogo memang sedikit beringas.

Empat bulan sudah berlalu dan Emerald masih saja terus-terusan terisak karena selalu teringat kakeknya. Tapi di balik rintihannya, justru huruf-huruf motivasi sedang berjajar rapi di kepala dua orang dewasa itu. Pembebasan harus segera di lakukan, strategi harus secepatnya di lancarkan.

Hari itupun tiba. Eksekusi napas-napas “ pemberontak ” sebentar lagi menemukan penantiannya. Momen paling membahagiakan bagi mereka yang selama ini gemar dalam penindasan. Tak perlu menunggu lama, Letusan pertama pun membahana. Mereka harus lari. Deru langkah seketika mengayun lincah sehingga keker buru-buru bergerak liar mengunci sasaran.

Satu…dua…empat…lima…sepuluh! napas melayang keharibaan-Nya. Emerald menggenggam erat lengan Kawan, di rekamnya baik-baik hutan yang selama ini memenjaranya. Rambutnya tergurai, matanya membelalak oleh peluru yang baru saja permisi di atas telinga kiri. Ia nyaris mati.

***

Blitz kamera Holga 120 S menenggelamkan tubuhnya. Masa telah berlalu hinggap ke tahun 1978. Sejarah telah mencatat perjuangan seorang Jogo, Kawan, ratusan Tapol, juga kata-kata Amroun Akhsan- kakeknya -. Buku tebal Emerald menyebutkan bahwa Kawan adalah aktivis pergerakan yang di jebak oleh sahabatnya sendiri. Di malam pencidukkan itu, Kawan baru tahu rupanya selama 5 tahun ini Ia telah bersahabat dengan seorang intelijen. Konon beberapa tahun setelah keberhasilan mereka atas pelarian yang tidak mampu di senandungkan dengan kata-kata itu, Kawan kembali terpenjara di antara orang-orang gila pasien Rumah Sakit Jiwa hingga akhir hayatnya. Ia tak mampu menerima kenyataan sesungguhnya bahwa Istrinya adalah seorang intelijen yang secara otomatis merupakan bagian tak terpisahkan dari konspirasi selama ini. Parahnya lagi, Si bejat sahabatnya itu rupanya kekasih istrinya. Mereka berdua kerap kali di pasangkan untuk misi-misi tertentu. Dan yang teramat-amat parah, keduanya telah di eksekusi mati oleh gerilyawan tronil. Api dendam yang selama ini menjilat-jilati nuraninya, padam oleh pembalasan yang tak menemukan titik impas.

Jogo menemukan akhir hidupnya waktu insiden pelarian terjadi. Hanya itu yang Emerald tuliskan di bukunya. Sungguh terlalu !!!

Emerald lebih banyak bercerita tentang konspirasi di balik kerusuhan 7 desember 1955. Perang kepentingan berbagai kubu dan tekanan tersamar dari negara adidaya. Bercerita tentang kakek dan dirinya, korban salah tangkap yang saat itu sedang menunggui jualan mereka di emperan Toko. Pengasingan puluhan lawan-lawan politik pemerintah ke sebuah pulau, sebuah pulau yang entah mengapa tak mau ia sebutkan.

Masih di atas podium, tahun ke-2 setelah Gerilyawan Tronil berhasil menggulingkan kekuasaan. Emerald berkoar-koar begitu membara. Ribuan pasang mata sedang tertuju padanya, Khidmat mendengarkan kisah seorang pelaku sejarah.

“ sekali berarti…teruslah berarti ! sebab kematian akan selalu menghantui. Setiap inchi, centi bahkan milli kehidupanmu di dunia ini !!! ” kata-katanya membuat dada hadirin bergemuruh. Aura perlawanan menyelubungi ruang dengar. “ kita adalah…” ucapannya terhenti. Titik merah menyebar, membasahi kemeja. Seseorang baru saja membuat lorong di jidatnya, menitipkan selongsong peluru didalamnya. Timah panas terputar ke ruang picu dan detik berikutnya trigger menendangnya keluar tepat menuju lubang yang sama. Benar-benar tembakan khas seorang sniper. Hadirin terperangah, tak ada satupun yang berani menghentikan aksi mematikan itu. Suasana hening saat Si pelaku berteriak,

“ Dia bukan Emerald !! Dia bukan Emerald !! dia pencuri catatan-catatanku ! ” teriakannya menggaung lalu timah panas pun menghambur ke tubuh “ pencuri ” itu.

Dor! Dor! Dor! DUAARRR!!!! ledakan besar terjadi.

***

Matanya membelalak. Napasnya memburu dan segera disusul oleh keringat bercucuran. Jam menunjukkan pukul 10.25, dua mata kuliah tentunya sudah terlewatkan. Jangankan itu, shalat subuh pun lalai ia tunaikan. Ia baru saja terbangun dari mimpinya yang sungguh-sungguh menakutkan. Tentang negeri yang tak ada dalam peta. Tentang Jogo, Kawan, dan ah…entahlah. Ia tak ingat. Mimpi kadang kala hanyalah deret-deret ilusi.

“ Emerald…EMERALD!!! ”

“ yes, sir! ”

Mr. Roy menggedor-gedor pintu rumah. Bunyinya kasar kurang berirama, tak pantas di padankan dengan lagu Begadang-nya bang Haji Rhoma. Mr. Roy yang mantan Gangster itu, datang menagih uang kontrakan. Sebenarnya Ia adalah orang baik, selama anda tepat waktu membayar uang kontrakan rumahnya. Emeraldi Wandira, mahasiswa calon Doktor bidang sejarah, yang sudah lama tinggal di Auckland negeri kiwi, segera menghitung uang yang masih tersisa. Ough…Ia lupa mengambil uangnya di Atm. Dan ough…Ia juga lupa kalau Bank dimana puluhan juta uangnya tersimpan, ternyata sedang terjerat skandal yang hingga saat ini masih di adili oleh Wakil rakyat di Indonesia sana. Emeraldi mengintip ke halaman. Tubuh tambun Mr. Roy masih kokoh berdiri di sana. Gemeretak gerahamnya sungguh menakutkan. Tamatlah Ia kini !

RIVOLLOVUERTA



Entah sudah berapa lama kau turut memenuhi kolong-kolong memoriku yang terpasung pada batas kesadaran. Seketika saja aku teringat lagi saat dirimu masih bocah dulu, saat kita sama menertawakan bias-bias lendir hidung yang terasa jorok dalam pandangan orang hingga sekarang. Dan kaupun mengoceh dengan wajah setengah memerah, mengepal tinju memasang kuda-kuda pada anak tetangga kita yang punya Mercy itu.

Dalam jumawa yang selalu saja kau khatamkan dengan sendawa, kita masih senang mencuri dua-tiga butir jambu air. Kebun engkongmu yang justru dari sanalah bapakmu berani mengikat janji hingga kaupun lahir. Mengendap-ngendap, mungkin biar nasib kita tak berakhir mengenaskan di bawah palu pengadilan sebagaimana yang sudah-sudah. Ah, aku terlalu mengada-ada. Bukankah kau ini anaknya?

Kita adalah dua sosok pendekar yang sedang melanglang buana mencari jejak spiderman, meskipun pada akhirnya kita hanya menemukan jasad wiro sableng dalam komik-komik lusuh di bawah lemari perpustakaan mewah. Dan tahu kah kau kala itu? Ipin-upin belum menerobos retina kita, sebab masih ku ingat betul wajah dan gaya lesumu saat memerankan tokoh cuplis di panggung yang nyaris roboh. Jujur harus ku akui, botakmu itu sebenarnya lebih pas jika dipadankan dengan sosok animasi dari mahakarya yang bernaung di bawah bendera les copaque itu.

Adakalanya hidup terasa membosankan, kau bisiki aku kalimat itu berkali-kali bagai dogma agama yang terbit dari tutur santo, hingga tak ku sangka kerutan-kerutan dahiku menyembul, tak menyangka aku akan berpikir bahwa kata-kata itulah yang membuatmu terlihat bagai monster di tengah kehidupan. Kau hunus pedang kali pertama di hadapan orang-orang bertampang garang. Di balik jelaga ku intip kau sambil mengompori dalam hati. Dan bapakmu masih sekarat dibelakangku menahan perihnya reaksi timah panas yang baru saja didapatinya. Saat kau tahu anak kecil sepertimu tak kan menang hanya dengan pedang, eh…kau malah menantang. Tidakkah kau ingat ceramah dari guru kita yang baru saja pulang umrah? ceramah yang selalu menjadikan riak-riak air bersemangat menjilat-jilati epiglotismu persis seperti orang yang mau muntah. Atau jangan-jangan masa itu kau terlambat memahami tentang kaidah kausalitas? Hah…menyesal aku terlambat menanyakannya. Lubang kecilpun menganga di pelipis kirimu. Kau menggelepar serupa ayam sawungan yang sering kita adu di pematang sawah. Serupa sajak khairil anwar perihal seorang kombatan yang bernaung tiga peluru di dadanya, dan kau merasa tak kan mati muda dan ingin hidup seribu tahun lagi.

Lupakanlah kenakalan yang pernah kita bagi pada kawan-kawan saat mana kita terpaksa menjadi bocah. Meremah-remah asa yang terlanjur berakhir pada kelu kesah. Agar kita menjadi lebih terasah lagi dewasa melewati masa yang takkan mungkin mencapai sempurna. Karena kita hanyalah abdi dari sesuatu yang hakiki.

Hei saudara…seperti inikah yang kau pinta saat sepenggal nyawamu menuntut kami mengepal di ujung aspal?

- March, Berdiri di atas pusara imajiner -

Lagi : Tentang tirani, " tantang tirani "



ini Adalah Monumen Tengat Kesabaran dan Angkara
Satu Barisan
Ribuan Mimpi
Titik Berangkat Yang Tak Pernah Dapat Kami Datangi Kembali
Terbuang Serupa fotokopian Pamflet Aksi Di Setiap Perempatan
Harapan Kami Akan Berakumulasi Menyaingi Nyalak Senapan Kalian
Kami Merayap Dalam Lamat Menyaingi Hantu-hantu Pesakitan
Hingga Waktu Kalian Mencapai Tengat…

Titipan Angkara Mereka Yang Tak Bisa Lagi Bersuara
ini Muara Seluruh Murka Lawas Yang Kehilangan Nyawa
Dalam Hitungan Langkah Kami Akan Isi Angkasa
Dengan Ribuan Pekik Yang Sama Saat Kalian Terbakar Bersama Bara
Terlalu Kentara Manuver Mereka Memplot Penjara
Hukum
Moral
Kebebasan
Batas Surga dan Neraka
Merancang Kontrol Bawah Sadar Serupa Bius Pariwara
Menjagai Setiap Inci Palang Pintu Modal Dengan Tentara
Sebelum Waktu Yang Banal Jumud Berkanal
Semua Momen Heroik Yang Tak Pernah Tercatat Dalam Tanggal
Biarkan Mereka Lafaz Semua Peringatan Yang Mereka Hafal
Setiap Ayat Pasal Karet Pertahanan Para Tiran Berpangkal
Kebebasan Yang Datang Saat Kau Tak Memiliki Lagi Harapan
Saat Opsi Tersisa Adalah Berdiri Menantang Para Tiran
Saat Momen Terhidup Dalam Hidupmu Adalah Memasang Badan Di Tengah Medan
Kawan
Mana Kepalan Kalian?

Chorus
Serupa Biksu Burma Di Hadapan Moncong Senapan
Serupa Malam Januari Yang Menandai Chiapas
Serupa Seruan Chavez Di Depan Muka Amerika
Serupa Tangan Intifadha Yang Melempar Batu Di Palestina
Serupa Siklus Ronta Kota Pasca Genoa
Serupa Rudal Hizbullah Di Daerah Pendudukan
Serupa Rahim Setiap Ibu Yang Melahirkan Para Kombatan Yang Menantang Setiap Tiran Di Titik Nadir Perhitungan

Kami Menolak Menjadi Bidak
Sekedar Sekrup dan Tumbal
Target Pemasaran Sampah Industri Kapitalis Global
Sekedar Hidup Lurus Dalam Dikte Penguasa Arus
Sekedar Kalian Tahu Kami Akan Bertahan Sampai Mampus
Kalian Awetkan Hegemoni Dengan Balsam Mumi Anti-teror
Kombinasi Intel dan Preman Menebar Horor
Kalian Kerangkeng Kami Dengan Pembenaran Semantik
Kami Rancang Kalam Puitik Yang Lebih Bersenjata Dari Ribuan Manifesto Politik
Kaya Semakin Kaya
Miskin Semakin Papa
Kalian Dapat Berlindung Di Balik Ocehan Nasib dan Samsara
Lakukan Apapun Termasuk Menjadi Tuhan
Kami Akan Berdiri Di Sini
Tak Sendiri
Hingga Nafas Penghabisan
Kebebasan Yang Datang Saat Kau Tak Memiliki Lagi Harapan
Saat Opsi Tersisa Adalah Berdiri Menantang Para Tiran
Saat Momen Terhidup Dalam Hidupmu Adalah Memasang Badan Di Tengah Medan
Kawan
Mana Kepalan Kalian?

Chorus
Serupa Kesabaran Terakhir Para Buruh Di Palang Pintu Pabrik
Serupa Panen Terakhir Para Petani Penggarap
Serupa Tengat Miskin Kota Di Ujung Penggusuran
Serupa Pilihan Terakhir Pasifis Di Hadapan Ancaman Pasar
Serupa Harapan Mereka Yang Tak Bisa Lagi Berharap
Serupa Pilihan Terakhir Keluarga Korban Kekerasan Negara
Serupa Rahim Setiap Ibu Yang Melahirkan Para Kombatan Yang Menantang Setiap Tiran Di Titik Nadir Perhitungan

Spoken Ii
Kami Akan Bangun Kembali Godam Dari Reruntuhan dan Berangkal Harapan
Keyakinan Yang Menyaingi Semua Manual Langitan
Esok Akan Terlalu Terlambat
Hari ini Atau Tidak Sama Sekali
Meski Kalian Coba Bunuh Kami Berkali
Kami Akan Lahir Berkali Bergenerasi
Harapan Meski Sebutir Pasir Di Lautan Yang Menyapa Setiap Kawan
dan Menagih Setiap Jemari Yang Pernah Menjanjikan Kepalan
Untuk Menggetarkan Nyali Para Tiran

Soundclip Dari Orasi Di Lapangan
Kawan-kawan
Dengarkan Kawan-kawan
Komando Ada Di Tangan Saya
Jangan Terpancing Provokasi
Kawan-kawan
Tunjukkan Pada Mereka Kita Tak Akan Bergeming Hari Ini
Kawan-kawan
Komando Ada Di Tangan saya Satu Langkah Untuk Pembebasan
Hitung Mundur Dari Sekarang !!!


- barisan huruf-huruf heroik Homicide, di culik entah dilahan parkir mana -

mosleem flag

Fans-Fans...

Blog Archive

benteng hati

musafir


weather counter

LAJU HARI

LONCENG KEMENANGAN

Archives

kotak sandiwara


ShoutMix chat widget

WHERE ARE YOU ?